Tampilkan postingan dengan label BAHAN RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHAN RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

03 Februari 2009

Kenapa Saya tak Suka Rokok

Edit Posted by with No comments
Saya kerap terganggu jika ada orang merokok di dekat saya. Suami saya seorang perokok. Untuk itu saya memilih jauh-jauh alias tak mau dekat-dekat dengannya, saat ia tengah menikmati sebatang rokok. Malah kalau suka usil, saya sembunyikan saja rokoknya atau tak jarang diam-diam saya kurangi jumlahnya. Tapi ternyata cara ini tak juga ampuh menghilangkan, minimal mengurangi kebiasaannya untuk menghisap tembakau batangan itu.

Bukannya sok bersih atau apa, tapi saya memang benar-benar tak suka asap rokok. Menurut saya, orang merokok berarti tidak mencintai diri sendiri, orang lain dan tidak mencintai bumi. Tuhan menciptakan bumi dengan udara bersih untuk kelangsungan hidup makhluk hidup. Namun manusia merusaknya dengan asap rokok.

Egoiskah? Sudah tentu jawabannya: iya. Belum lagi sebuah survey yang menyebutkan jika pertumbuhan terbesar tahun lalu pada pengguna rokok, ternyata anak-anak di bawah umur. Lengkap sudah alasan saya untuk semakin tidak menyukai rokok.

Rokok berarti membakar uang. Rokok berarti pencemaran udara. Rokok berarti tidak menghormati hak orang lain untuk memperoleh udara bersih. Belum lagi sederet akibat negatif yang ditimbulkan rokok bagi penggunanya, yang bisa kita baca di tiap pak kemasan rokok. Meski pada akhirnya himbauan itu samasekali tak berguna bagi yang terlanjur kecanduan nikotin rokok.

Sebenarnya kalau mau disadari, mulai berhenti merokok bisa berarti pula mulai bersikap adil pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Ketika setiap orang kian gencar melakukan gerakan hijau bumi, kenapa kita tidak turut ambil bagian dengan mengawali dari hal-hal kecil yang menyangkut diri sendiri. Mengurangi rokok misalnya.

Bayangkan jika satu orang saja berani mengambil keputusan untuk mengurangi jatah satu batang rokok per hari. Berapa besar uang yang bisa dihemat. Berapa besar suplai oksigen bersih yang bisa kita selamatkan. Dan mungkin akhirnya berapa besar jumlah kematian akibat rokok yang bisa kita cegah. Jadi, marilah berhenti merokok. Demi diri kita, orang-orang di sekitar kita dan demi bumi kita.

Memorabilia

Edit Posted by with No comments
Aku ingin pulang. Aku ingin melihat lagi rumah kayu tua itu. Rumah kayu berdinding bambu yang hingga kini tak pernah lekang digerus waktu. Betapa rumah itu telah memberi begitu banyak warna indah, pada tiap lapis masa kecil kami. Aku, adikku serta kakak sepupu kami. Bertiga kami melewati masa-masa indah di sana. Seandainya tiap lapis kenangan itupun dikupas dan dibuang, maka ingatan akan masa kecil di rumah kayu takkan pernah habis. Seperti udara yang terus mengisi rongga paru kami.

Seperti sebuah permen manis yang tak akan pernah habis rasa manisnya meski terus menerus dihisap. Seperti sebuah batu berkilau yang akan tersimpan dalam ceruk masa lalu kami yang permanen. Untuk kemudian seiring dengan berlalunya waktu, batu itu akan terus kami asah hingga menjadi berlian yang makin berkilau dan terus bersinar dalam hidup kami. Masa kecil di rumah kayu seperti titik tumpu dalam timbangan kehidupan kami. Yang membawa kami pada satu titik keseimbangan kala kami merasa goyah. Kadang saat penat, rumah kayu dan segala kenangannya seolah mampu menghadirkan kembali kesejukan dan energi baru dalam hidup kami.

Aku tak akan pernah lupa, ketika pagi mulai menyapa dan sinar matahari masuk melalui celah-celah dinding bambu, maka itu berarti kami akan memulai hari yang menyenangkan. Menemukan telur-telur ayam dalam kuali (sejenis periuk dari tanah liat), menertawakan katak yang terperangkap dalam lumpang batu di belakang rumah, hingga bermain di sungai.

Aku juga suka sekali mengamati asap yang membumbung dari tungku batu di dapur saat nenek memasak. Asap itu akan terus terbang melesat ke atas, lurus menerobos genteng kaca dapur tepat di atas tungku. Putih dan sesekali ditingkah titik-titik biru dan merah. Seumpama jalan sutra yang menuju ke arah langit. Jauh.....jauh sekali hingga tak jelas lagi ujungnya.

Tak hanya itu. Jika tiba musim bertelur bagi ayam-ayam, maka kakek dengan sabar akan mempersiapkan kuali yang telah dialasi kain-kain perca untuk tempat ayam mengerami telur-telurnya. Kakek juga begitu telaten membersihkan kandang, memandikan ayam-ayam hingga menggiring mereka masuk kandang kembali kala petang menjelang.

Jika malam tiba, kakek akan bersantai sambil mendengarkan radio transistor. Tak lupa dengan balutan jaket hijau tua ala tentara, yang sudah mulai pudar warnanya dan lepas satu kancingnya. Kakek sering bercerita jika jaket itu telah menemani perjalanan kakek selama masa perjuangan. Sepanjang malam radio itu akan terus didekap kakek sambil dielus hingga terkantuk-kantuk. Kakek dan jaket tuanya serta radio yang tak jelas lagi suaranya.

Pemandangan malam yang tak mungkin hilang terlindas waktu. Dan belum lagi setengah perjalanan acara siaran, Kakek selalu tertidur. Begitu pulas. Sementara radio tuanya masih saja mengumandangkan kemerasak siaran pedesaan RRI. Nafasnya naik turun. Pelan dan berat. Semakin lama semakin panjang. Nafas Kakek beradu dengan suara radio. Memecah sunyi membelah dingin. Membelah pekat malam.

mitha laksono

03 Januari 2009

Stop violence against women: Campaign starts on Monday

Edit Posted by with No comments
JEDDAH: Princess Hussa bint Tarad Ashaalan, wife of Custodian of the Two Holy Mosques King Abdullah, will launch on Monday a nationwide campaign by the Human Rights Commission (HRC) to stop violence against women.

The HRC's women's wing said it was holding the yearlong campaign as part of its responsibility to Saudi society. "The campaign is aimed at enlightening women of their rights," said Wafiqa Al-Dakheel, supervisor of the women's wing.

Dakheel emphasized the need to provide legal and social assistance to women who are victims of family violence. "The campaign will also highlight the importance of devising an effective plan to stop violence against women and establish centers to treat the victims of such violence," she added.

The campaign also aims to educate men on the need to improve their treatment of women. The campaign includes seminars on the rights of divorced women, special needs women and Saudi women married to foreigners.

There will be a competition for the best article highlighting violence against women, she said. Articles published between Dec. 29, 2008 and April 26, 2009, will be considered for participation in the competition.

The campaign comes in the wake of the growing number of cases of domestic violence across the Kingdom. As many as 230 such cases were reported in Riyadh this year, one source said. The capital city accounts for around 29 percent of divorces in the Kingdom.

The Council of Ministers last month reiterated the government's resolve to protect the rights of women. It also called for more efforts to increase awareness among women about their rights.

Abdul Ilah Saaty of the Jeddah Community College praised the Cabinet decision to improve the condition of women. "Our women have suffered for decades because their legitimate rights were not protected."

He also emphasized the need to change the attitude of society to women's rights. "Islam protects the rights of women. The Qur'an and Sunnah urge Muslims to be kind to women. But we are not doing that."

Abdul Razak Al-Zahrani of Imam Muhammad bin Saud Islamic University said a committee of experts should be formed to look into family violence cases. "Newly married couples must be given guidance on how to avoid conflicts in family life," he said, adding that mosques, schools and the media have their roles to play.

Enaam Raboue, president of the Association for Family Protection in Jeddah, said her organization received more than 250 family violence cases in the last five months. Mental illness, drug abuse, alcoholism, poverty, unemployment and a lack of religious commitment and education were some of the reasons for family violence, she added. [P.K. Abdul Ghafour | Arab News ]

Anak-anak Poso Berjuang Melawan Trauma

Edit Posted by with No comments
Ada artikel yang sangat menyentuh. Saya share di sini beberapa paragraf aja. Selebihnya, baca di link yang ada di bagian belakang artikel.

Poso - Sepuluh tahun sudah konflik horizontal di Kabupaten Poso berlalu. Namun, kenangan pahit itu masih membekas. Hingga kini masih banyak warga belum kembali dari pengungsian. Konflik menyisakan banyak duka. Tak terkecuali anak-anak. Mereka menderita trauma konflik.[oleh : Erna Dwi Lidiawati]

RIUH-rendah suara anak-anak Sekolah Dasar Sintuvu Lemba, Sabtu (20/12) pagi. Mereka tengah bekerja bakti, bergotong royong membersihkan halaman sekolah dari rumput-rumput liar yang tumbuh subur. Gedung sekolah itu dibangun tahun 2002, 9 kilometer dari Kota Poso. Tak banyak siswa yang bersekolah di situ. Jumlahnya hanya 43 siswa. Ruangan kelasnya cuma enam. Kelas enam muridnya hanya tiga orang. Yang paling banyak kelas satu. selengkapnya

notes : cepet pulang kerja, hampiri anak. Peluk cium, langsung enak!

Gus Dur : Hentikan Serangan terhadap Rakyat Palestina

Edit Posted by with No comments
Serangan kaum konservatif Israel terhadap rakyat Palestina sejak dua hari lalu telah menewaskan lebih 300 orang dan 700 orang luka-luka. Serangan ini merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan prinsip-prinsip perdamaian yang tengah diusahakan di Timur Tengah khususnya di Palestina. Segala tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum konservatif Israel ini tidak akan pernah bisa menyelesaikan konflik di sana, bahkan akan membawa kedua belah pihak (Israel dan Palestina) pada jurang kehancuran. Israel tidak bisa pula berdalih bahwa serangan ini hanyalah reaksi terhadap serangan Hamas sebelumnya atau sebagai bentuk perlindungan diri. Menyikapi serangan Israel tersebut kami menyerukan beberapa hal:


Mengecam segala bentuk dan cara kekerasan dalam menyikapi kebuntuan politik dan penyelesaian konflik di Timur Tengah, khususnya di Palestina

Mendesak pihak militer Israel untuk menghentikan serangan dan mundur dari wilayah Palestina (khususnya jalur Gaza)

Menuntut agar pihak-pihak pemerintah di Palestina mulai dari PLO, Otoritas Palestina dan Fatah di bawah kepemimpinan Presiden Mahmoud Abbas untuk tidak berpangku tangan dan membiarkan serangan Israel ini, apalagi memandang serangan Israel itu hanya sebagai urusan Hamas saja

Menuntut agar pihak Hamas meninggalkan cara-cara kekerasan dalam menyikapi konflik Palestina-Israel, agar kaum konservatif Israel tidak menjadikannya sebagai dalih untuk melakukan pembalasan. Hamas perlu kembali pada perjuangan diplomatik dan perundingan bukan dengan jalur kekerasan yang akan menjadikan rakyat Palestina sebagai korban

Meminta umat Islam di Indonesia untuk memberikan bantuan semampunya untuk rakyat Palestina dari doa (seperti membaca doa qunut nazilah bagi umat Islam), dan bentuk-bentuk bantuan lainnya.

Meminta umat Islam di Indonesia untuk terus waspada agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang berusaha `menunggangi´ isu Palestina ini yang tujuannya demi kepentingan kelompoknya sendiri.

Jakarta, Senin 1 Muharram 1430/29 Desember 2008 M
Abdurrahman Wahid

07 Oktober 2008

Babu Dolly

Edit Posted by with 1 comment
Membaca novel Laskar Pelangi memang membuat banyak orang terkagum-kagum termasuk saya. Saya tak ingin menceritakan panjang lebar dari segi mana kekaguman saya. Hanya saja perjuangan anak-anak Belitong, mengingatkan saya pada teman masa kecil yang kini entah berada di mana.

Kabar terakhir yang saya dengar, dia telah menikah dengan seorang pengusaha non pribumi kaya dan pindah ke kota lain. Saya sempat turut bahagia demi mendengar kabar yang hanya sekedar angin lewat itu. Betapa tidak, bagi saya, hal itu adalah sebuah harga pantas yang memang harus dia terima atas ‘perjuangan’ yang selama ini dia lakukan. A’an namanya. Dia hanya anak seorang buruh cuci pakaian. Bukan pakaian sembarangan. Melainkan pakaian mbak-mbak cantik penghuni sekaligus penghias ‘akuarium raksasa’.

Paling tidak itulah gambaran yang terekam dalam benak saya saat itu, saat duduk di bangku sekolah dasar, duapuluh tahun yang lalu. Akuarium adalah sebutan kami untuk rumah-rumah bordil atau wisma-wisma yang berada di gang Dolly. Rumah-rumah berkaca besar yang menampilkan pemandangan deretan wanita cantik duduk manis di sofa panjang, dengan diterangi cahaya lampu merah. Persis dalam akuarium. Deretan wisma itu seolah menjadi saksi bisu yang selalu menanti kehadiran A’an setiap pagi.

Sambil memanggul keranjang cucian, sebelum berangkat sekolah, A’an mulai memasuki satu persatu wisma. Keranjang plastik itu menurut saya terlalu besar dan berat untuk tubuh kecil A’an, apalagi ditambah pakaian yang isinya selalu nyaris penuh. Sembari memberikan pakaian kepada si empunya, A’an sekali-kali melirik ke arah jam dinding. Seolah berlomba dengan waktu, A’an selalu mencoba untuk menunaikan tugas sebaik-baiknya dengan selekas-lekasnya. Menyerahkan pakaian, menerima kembali pakaian kotor, dan tak lupa memungut lembaran-lembaran rupiah dari si mbak.

Terkadang mereka tak segan memberi A’an upah lebih sekedar ongkos kirim pakaian. Mbak-mbak itu memang tak pernah tahu bagaimana A’an harus bangun pagi-pagi buta, lantas menimba air dari sumur dan membantu Ibunya membilas pakaian. Ibu A’an selalu menyelesaikan tugasnya sebelum subuh. Sehingga jika adzan subuh terdengar, itu berarti A’an harus bergegas bangun dan membantu Ibunya melanjutkan mencuci pakaian.

Ketika anak-anak lain masih bergelut dengan selimut, A’an kecil sudah harus berkecipak dengan air membilas pakaian mini milik si mbak. Untung ukuran pakaian itu kecil-kecil. Hingga A’an tidak perlu terlalu berat mengangkat dan memeras pakaian. Sementara A’an membilas pakaian, si Ibu menyetrika pakaian yang harus dibawa A’an untuk diantar pagi itu. Bukan pekerjaan yang ringan untuk anak usia 8 tahun. Pekerjaan ini memang cukup melelahkan bagi A’an, hingga pernah suatu kali saya melihat A’an tertidur di kelas dengan nyenyak. Bahkan ketika kami harus berpegangan tangan ketika bermain ular naga, saya bisa merasakan permukaan tangannya yang begitu kasar. Seolah meraba permukaan daun kering yang sudah jatuh ke tanah. Bergaris-garis cukup dalam akibat mengangkut keranjang pakaian yang berat. Dari rumah ke sekolah, berkeliling ke tiap wisma, hingga kembali lagi ke rumah pada siang harinya.

Awalnya A’an terlihat malu membawa keranjang berisi pakaian kotor ke sekolah, hingga ia harus menitipkannya di pojok kantin penjual makanan. Namun hanya dalam waktu sepekan, A’an mulai tak jengah melihat reaksi teman-teman yang sempat mengejek dan menyebutnya ‘Babu Dolly’. Mungkin karena kebesaran hatinya atau mungkin juga karena tuntutan hidup. Jika malu membawa pakaian si mbak, maka Ibu tak bisa masak.

Jika Ibu tak masak maka perut pasti berontak. Tak ada beras yang bisa di tanak atau bahkan lauk makan yang enak. Maka A’anpun maju terus pantang mundur. Tak pernah menyerah. Saya baru benar-benar mengagumi dan menyadari perjuangan A’an kecil. A’an memang seperti anak-anak Laskar Pelangi yang berjuang demi sekedar bisa bersekolah. Mereka sama-sama harus menempuh ‘medan terjal’, meski dalam arti yang berbeda.

mitha laksono

23 September 2008

RUU tentang Pornografi Menghambat Pembebasan Perempuan

Edit Posted by with No comments
Menjelang Pemilu 2009, saat semua partai, baik itu partai-partai politik lama maupun maupun partai-partai politik baru, beramai-ramai menonjolkan program mereka untuk mendukung kesetaraan bagi kaum perempuan, mendukung kuota 30% TETAPI MAYORITAS (Golkar, Partai Demokrat, PKS, PAN, PKB, PBR, PBB, Partai Pelopor, PPP) DARI MEREKA, TIDAK ADA SATUPUN YANG MEMPUNYAI SIKAP TEGAS MENOLAK RUU TENTANG PORNOGRAFI, SEMENTARA PARTAI-PARTAI POLITIK BARU JUGA BERSIKAP MASA BODO/TIDAK MAU TAU.

KELUARNYA PDIP DAN PDS BELUM MENUJUKKAN KOMITMEN YANG SERIUS TERHADAP PEMBEBASAN PEREMPUAN. Bagi kami, jika RUU tentang Pornografi ini disahkan akan menjadi ancaman bagi pembebasan perempuan karena pertama, definisi yang tertulis dalam ruu tersebut menyerang seksualitas dan politik perempuan – yang dalam masyarakat patriarkhi seksualitas pasti selalu dikaitkan dengan perempuan, kontrol terhadap seksualitas perempuan adalah cerminan masih kuatnya budaya patriarkhi dalam pemerintahan dan parleme! n kita. Selama tubuh perempuan masih dalam kontrol negara maka selamanya akan menghambat kemajuan dan partisipasi politik perempuan. Kedua, berpotensi besar untuk mengkriminalkan perempuan dan anak yang terlibat dalam industri pornografi tanpa melihat latar belakang mengapa mereka bisa terlibat industri pornografi.

Banyaknya kaum perempuan dan anak yang terlibat dalam industri pornografi didorong oleh kondisi sosial, terutama kemiskinan yang semakin akut yang disebabkan tidak tersedianya lapangan pekerjaan, PHK massal, pendapatan yang rendah, harga-harga naik. Ketiga, ruu mendukung lahirnya perda-perda yang akan menghambat kemajuan kaum perempuan untuk terlibat dalam ranah public. Keempat, dengan adanya ruu ini pemerintah dan parlemen justru melegalkan diskriminasi dan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan mengkontrol kehidupan personal masyarakat, terlebih lagi juga melegalkan tindakan premanisme untuk mengontrol, mengatur, mengawasi bahkan merepresi kaum perempuan dan warga negara.

Industri pornografi adalah pokok persoalan bagi komersialisasi seksualitas perempuan, dan industri ini mengeruk keuntungan dari penghancuran kemanuasiaan perempuan. Selama ini terus dilindungi oleh penguasa, demi keuntungan ekonomi, maka industri pornografi akan menyeret rakyat dalam rantai produski dan distribusi di dalamnya. Sehingga menyerang, menghakimi dan menghukum rakyat yang mencari makan dari industri pornografi adalah politik kekuasaan yang anti rakyat, mengalihkan tanggung jawab negara atas kesalahan industri pornografi, sekaligus politik penguasa yang lepas tangan terhadap situasi rakyat yang miskin tanpa lapangan pekerjaan.

Jelas sekali, ketidakmampuan pemerintahan SBY-Kalla untuk menyejahteraan kaum perempuan ditutupi dengan mengusulkan sebuah ruu yang justru membelenggu perempuan. Saat ini yang dibutuhkan oleh perempuan adalah lapangan pekerjaan yang layak, sembako yang murah, kesehatan gratis, pendidikan gratis, upah yang layak dan kehidupan yang lebih baik.

Dengan disahkannya ruu ini maka upaya pemenuhan kuota 30% keterwakilan perempuan dalam pendaftaran calon legislative untuk pemilu 2009 akan kehilangan makna politiknya bagi upaya mendorong maju perempuan. Pemilu 2009 hanya akan menjadi ajang politik dagang sapi, dan perempuan dibutuhkan hanya untuk memperbanyak suara. Pemerintah SBY-Kalla, elit politik dan partai-partai politik yang mendukung pengesahan RUU Tentang Pornografi sama saja anti kesetaraan kaum perempuan.

Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika dengan tegas menolak pengesahan RUU tentang Pornografi, dan menyerukan kepada seluruh kaum perempuan dan rakyat miskin Indonesia untuk membangun persatuan tanpa terkooptasi dan independen untuk melawan politik elit yang anti perempuan dan anti rakyat miskin.

Kaum Perempuan Bersatu;
Bentuk Organisasi Payung Perempuan Nasional
yang Mandiri dan Non-Kooptasi

Jakarta, 17 September 2008 | Vivi Widyawati | Koordinator

KOMITE NASIONAL
JARINGAN NASIONAL PEREMPUAN
MAHARDHIKA (KN-JNPM)
Sekretriat: Jalan Manggarai Utara I Blok H No. 6 A, Jakarta Selatan
Tel/Fax: 021-8297332, Email: mahardhika.kita@ gmail.com

03 September 2008

Not Every Woman Supports Women's Rights

Edit Posted by with No comments
Yap. Tidak semua wanita bisa memperjuangkan hak wanita. Jadi memilih presiden perempuan? Aduh, mikir dulu ya, jeng. Tak percaya, baca artikel di web NOW (National Organization for Woman) ini.

Statement of NOW PAC Chair Kim Gandy on the Selection of Sarah Palin as John McCain's Vice Presidential Pick

Sen. John McCain's choice of Alaska governor Sarah Palin as his running mate is a cynical effort to appeal to disappointed Hillary Clinton voters and get them to vote, ultimately, against their own self-interest.

Gov. Palin may be the second woman vice-presidential candidate on a major party ticket, but she is not the right woman. Sadly, she is a woman who opposes women's rights, just like John McCain.

The fact that Palin is a mother of five who has a 4-month-old baby, a woman who is juggling work and family responsibilities, will speak to many women. But will Palin speak FOR women? Based on her record and her stated positions, the answer is clearly No.

In a gubernatorial debate, Palin stated emphatically that her opposition to abortion was so great, so total, that even if her teenage daughter was impregnated by a rapist, she would "choose life" -- meaning apparently that she would not permit her daughter to have an abortion.

Palin also had to withdraw her appointment of a top public safety commissioner who had been reprimanded for sexual harassment, although Palin had been warned about his background through letters by the sexual harassment complainant.

What McCain does not understand is that women supported Hillary Clinton not just because she was a woman, but because she was a champion on their issues. They will surely not find Sarah Palin to be an advocate for women.

Sen. Joe Biden is the VP candidate who appeals to women, with his authorship and championing of landmark domestic violence legislation, support for pay equity, and advocacy for women around the world.

Finally, as the chair of NOW's Political Action Committee, I am frequently asked whether NOW supports women candidates just because they are women. This gives me an opportunity to once again answer that question with an emphatic 'No.' We recognize the importance of having women's rights supporters at every level but, like Sarah Palin, not every woman supports women's rights.

Menolak Kenaikan BBM adalah Upaya Menyelamatkan Bangsa

Edit Posted by with No comments
PERNYATAAN SIKAP KOALISI PEREMPUAN INDONESIA
Untuk Keadilan dan Demokrasi
MENOLAK KENAIKAN BBM ADALAH UPAYA MENYELAMATKAN BANGSA

Meski suara-suara penolakan bergema diseluruh penjuru negeri pemerintah menutup mata dan telinganya dengan tetap mengumumkan kenaikan BBM pada 23 Mei silam. Keputusan sepihak yang diambil pemerintah ditengah kondisi perekonomian rakyat yang tidak menentu adalah bukti pelepasan tanggung jawab pemerintah untuk mensejahterakan rakyat.

Dalih menyelamatkan keuangan negara yang menjadi legitimasi pemerintah untuk meningkatkan harga BBM hingga 287% patut menjadi pertanyaan. Terlebih banyak fenomena yang bisa menggugurkan argument tersebut. Meningkatnya angka penjualan mobil mewah ke Indonesia yang diprediksi mencapai 80% pada tahun 2008 adalah sebuah ironi ditengah sulitnya perekonomian Negara. Argumen tersebut semakin sulit dicerna oleh logika ketika pemerintah tidak bersikap transparan dalam mempertanggungjawabkan penggunaan keuangan negara.

Naiknya harga bahan bakar minyak yang merupakan kebutuhan vital semakin menghimpit kehidupan rakyat Indonesia. Kenaikan BBM ini jelas akan menimbulkan efek domino yang saat ini sudah mulai terlihat. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi dan pada ujungnya akan meningkatkan angka kemiskinan di negeri ini. Perempuan dan anak kembali harus menanggung beban dampak kenaikan BBM itu. Proses tumbuh kembang anak yang notabene membutuhkan kecukupan gizi untuk berkembang secara optimal sudah pasti akan terhambat. Melesatnya angka busung lapar dan kurang gizi hanya tinggal menunggu waktu.

Belum lagi program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang menjadi cara pemerintah untuk meredam dampak kenaikan BBM kerap memunculkan masalah baru. Alih-alih membantu rakyat untuk bertahan dari efek domino kenaikan BBM BLT justru menumbuhkan mental sebagai bangsa pengemis. Belum lagi pelaksanaannya di lapangan yang sering menimbulkan kericuhan dan kerusakan.

Menyadari kerusakan luar biasa yang akan muncul sebagai efek kenaikan BBM Koalisi Perempuan Indonesia dalam aksi ini menyerukan penolakannya terhadap keputusan kenaikan BBM dan menuntut pemerintah untuk :

Menarik kembali keputusan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak
Memberikan laporan transparan terhadap penggunaan anggaran Negara
Menghentikan impor dan meningkatkan pajak mobil mewah
Memotong tunjangan pejabat Negara
Menghentikan program Bantuan Langsung Tunai dan menggunakan dananya untuk membuat program padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja
Melakukan negosiasi pembayaran utang luar negeri

Pernyataan sikap ini bukan sekadar seruan belaka tapi lebih dari itu pernyataan ini adalah bentuk tuntutan kepada pemerintah untuk bertanggung jawab memberikan kehidupan layak bagi bangsa.