03 Februari 2009

Teka-teki yang Tak Sederhana

Edit Posted by with No comments
Gak sengaja nemu buku ini. Seperti biasa juga, jadi gak tahan buat bikin sedikit catatannya. Sekali lagi, semoga Anda berkenan.

I’ll Be Seing You (Kan Kutemui Dikau)
Mary Higgins Clark | PT Gramedia Pustaka Utama

Meghan Collins seorang reporter sebuah jaringan televisi berupaya menemukan petunjuk atas kematian seorang wanita yang mirip sekali dengan dirinya. Apakah mungkin wanita itu memiliki pertalian darah dengannya? Tak seorangpun bisa membuktikan.

Demikian pula dengan kasus kecelakaan yang diduga terjadi pada ayah Meghan, Edwin Collins. Meski demikian mayat Edwin tak pernah ditemukan. Bahkan bangkai mobilnyapun lenyap tak berbekas. Apakah mungkin sebenarnya Edwin masih hidup? Teka-teki yang mencoba dipecahkan Meghan ternyata tak sederhana.

Cerita misteri ini juga diwarnai dengan adanya tokoh Bernie Heffernan, seorang psikopat yang terobsesi pada Meghan, hingga rela melakukan apapun demi bisa selalu bersama Meghan. Sementara itu kisah cinta tak lupa juga turut diselipkan dalam kehidupan Meghan. Namun kali ini penulis mengisahkannya ‘biasa’ saja. Tak terlalu berliku meski cukup manis. Mengingat yang menjadi titik sentral cerita adalah misteri pembunuhan Edwin Collins.

Seperti pada umumnya cerita misteri, pembaca akan diajak untuk terus mengikuti alur cerita dan mungkin akan sedikit tertipu dengan beragam karakter yang dibangun penulis. Dan seperti sudah ‘digariskan’ pula pada hampir semua kisah misteri, tersangka pembunuhan ternyata adalah orang yang sangat dekat dengan tokoh cerita.

Sampai disini, I’ll Be Seing You tetap bisa menjadi salah satu cerita misteri yang layak untuk tidak dilewatkan. Apalagi jika anda menginginkan kisah yang tidak terlalu rumit dan tidak memerlukan banyak energi untuk mengikuti alur cerita. Andapun tak perlu terlalu mengerutkan kening dan berpikir keras untuk mencerna kisahnya. Baca saja dan bersiap untuk menanti kejutan-kejutan kecilnya.

Surat Cintanya Tia

Edit Posted by with No comments
Suatu sore Tia duduk di pojok teras. Sendiri. Memegang sebuah amplop surat. Lantas tak berapa lama Tia mulai merobek surat itu dan mengambil isinya. Selembar kertas putih surat rekening tagihan telepon. Tia mengamati dengan seksama deretan huruf dan angka yang tertera.

Keningnya berkerut. Matanya menatap serius. Lalu lembar putih itu dibolak-balik. Dilipat lagi. Dibalik lagi. Tia menggeser letak duduknya. Mencari posisi paling tepat untuk mulai membaca. Sementara Ibu tengah menyiram bunga sambil sesekali melirik ke arah Tia. Tia melirik ke arah Ibu. Serius. Tajam. Dan Tia pun mulai membaca.

“Aku cinta kepadamu”.

Kontan Ibu hampir tertawa. Namun Ibu mencoba menahan keinginan tawanya dan pura-pura mengalihkan pandangan agar Tia tidak tergangggu. Dan benar saja. Melihat Ibu cuek, Tiapun melanjutkan aksi membaca ‘surat cintanya’.

“Aku cinta kepadamu. Tapi kamu tidak cinta kepadaku”. Tia melirik Ibu lagi.
“Males ah. Bacanya udah aja”

“Kok udahan bacanya,” tanya Ibu
“Iya. Suratnya aneh”.

“Knapa?”
“Nggak ada fotonya Farhan”

“Farhan temannya mbak Tia itu?”
“Ya iyalah..”

“Memangnya cinta itu apa sih. Ibu kok nggak ngerti ya. Mbak Tia ngerti nggak?”
“Cinta itu pacaran. Mbak Tia sekarang kalo di sekolah pacarnya Farhan. Nanti kalo Ibu kesekolahnya Mbak Tia, tak kasih tau yang namanya Farhan ya. Ibu mau nggak?”

“Iya deh. Nanti Ibu kenalin ya ”
“Iya. Tapi Ibu nggak boleh pacaran sama Farhan ya...”
Tiapun ngeloyor pergi sambil membawa ‘surat cintanya’. Dan tak berapa lama dari dalam rumah terdengar suara, “Aku cinta kepadamu”.

Sekali Lagi, Edensor

Edit Posted by with No comments
Sorry, memang telat kalau bikin resensi buku ini. Tapi nggak tahu kenapa, pingin banget nulis soal Edensor. Semoga berkenan.

Judul Buku : Edensor

Andrea Hirata | PT. Bentang Pustaka


Sebuah novel lanjutan dari tetralogi laskar pelangi. Setelah buku pertama dan kedua, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Andrea melanjutkan kisah hidupnya di negeri impian. Setelah berhasil memperoleh beasiswa ke Uni Eropa, Ikal akhirnya berhasil menemukan keindahan alam khalayan Edensor. “Jalan-jalan desa menanjak berliku-liku, dihiasi deretan pohon oak, berselang-seling diantara jerejak anggur yang ditelantarkan..

Potongan novel Herriot peninggalan A Ling, kekasih masa kecil, menjadi pembuka jalan dalam penaklukan mimpi-mimpi Ikal. Seolah terinspirasi, Ikal dan sang simpai keramat, Arai, memutuskan menempuh perjalanan panjang selama liburan musim panas, untuk merasakan sari pati hidup. Mereka menjelajahi Eropa hingga Afrika. Bermodal penampilan ala ikan duyung, Ikal dan Arai harus bertahan hidup dengan berperan sebagai seniman jalanan. Berlibur irit ala backpacker. Benar-benar mengandalkan nasib dan keberuntungan.

Begitu banyak potongan mossaik menakjubkan yang disuguhkan dalam petualangan kali ini. Namun rasanya ada pula potongan yang terlalu menakjubkan (baca:mustahil) yang digambarkan Andrea. Misalnya pertemanannya dengan supermodel elit Famke Somers, yang berujung pada pertemuannya dengan supermodel Bohemian, Daria Werbowy. Selain itu pertemuannya dengan Andrea Galliano, wanita yang menginspirasi Ikal untuk berganti nama dengan mengambil nama depan Andrea. Padahal sudah puluhan tahun berlalu. Wanita ini pernah diberitakan media, mengancam akan terjun dari tiang telepon, jika Elvis Presley tak membalas suratnya. Terpisah rentang jarak dan waktu yang begitu jauh dan begitu lama.

Namun “kealpaan” kecil ini menjadi tak berarti, jika anda telah membaca buku pertama dan kedua. Karena anda pasti akan sangat menantikan bagaimana kisah hidup Ikal selanjutnya. Dan novel ketiga ini rasanya cukup untuk mengobati kerinduan itu. Paling tidak, Ikal digambarkan mulai mengenal kehidupan yang lebih baik, dibandingkan dengan segala keterbatasan yang dikisahkan pada dua buku sebelumnya. Namun tentu saja tetap dengan kesahajaan dan kesederhanaan yang seolah menjadi benang merah tetralogi Laskar Pelangi.

Di sisi lain, Andrea memang seniman yang begitu cerdas memilih kata dan merangkainya menjadi satu kalimat yang luar biasa namun tetap jenaka. Terutama dalam moment-moment pencarian A Ling. Sehingga tak perlu waktu panjang untuk mencernanya. Dengan kata lain, buku ini lebih ringan untuk dinikmati ketimbang buku pertama, Laskar Pelangi, yang sarat dengan bahasan ilmiah. Jadi nikmati saja alur ceritanya.

Memorabilia

Edit Posted by with No comments
Aku ingin pulang. Aku ingin melihat lagi rumah kayu tua itu. Rumah kayu berdinding bambu yang hingga kini tak pernah lekang digerus waktu. Betapa rumah itu telah memberi begitu banyak warna indah, pada tiap lapis masa kecil kami. Aku, adikku serta kakak sepupu kami. Bertiga kami melewati masa-masa indah di sana. Seandainya tiap lapis kenangan itupun dikupas dan dibuang, maka ingatan akan masa kecil di rumah kayu takkan pernah habis. Seperti udara yang terus mengisi rongga paru kami.

Seperti sebuah permen manis yang tak akan pernah habis rasa manisnya meski terus menerus dihisap. Seperti sebuah batu berkilau yang akan tersimpan dalam ceruk masa lalu kami yang permanen. Untuk kemudian seiring dengan berlalunya waktu, batu itu akan terus kami asah hingga menjadi berlian yang makin berkilau dan terus bersinar dalam hidup kami. Masa kecil di rumah kayu seperti titik tumpu dalam timbangan kehidupan kami. Yang membawa kami pada satu titik keseimbangan kala kami merasa goyah. Kadang saat penat, rumah kayu dan segala kenangannya seolah mampu menghadirkan kembali kesejukan dan energi baru dalam hidup kami.

Aku tak akan pernah lupa, ketika pagi mulai menyapa dan sinar matahari masuk melalui celah-celah dinding bambu, maka itu berarti kami akan memulai hari yang menyenangkan. Menemukan telur-telur ayam dalam kuali (sejenis periuk dari tanah liat), menertawakan katak yang terperangkap dalam lumpang batu di belakang rumah, hingga bermain di sungai.

Aku juga suka sekali mengamati asap yang membumbung dari tungku batu di dapur saat nenek memasak. Asap itu akan terus terbang melesat ke atas, lurus menerobos genteng kaca dapur tepat di atas tungku. Putih dan sesekali ditingkah titik-titik biru dan merah. Seumpama jalan sutra yang menuju ke arah langit. Jauh.....jauh sekali hingga tak jelas lagi ujungnya.

Tak hanya itu. Jika tiba musim bertelur bagi ayam-ayam, maka kakek dengan sabar akan mempersiapkan kuali yang telah dialasi kain-kain perca untuk tempat ayam mengerami telur-telurnya. Kakek juga begitu telaten membersihkan kandang, memandikan ayam-ayam hingga menggiring mereka masuk kandang kembali kala petang menjelang.

Jika malam tiba, kakek akan bersantai sambil mendengarkan radio transistor. Tak lupa dengan balutan jaket hijau tua ala tentara, yang sudah mulai pudar warnanya dan lepas satu kancingnya. Kakek sering bercerita jika jaket itu telah menemani perjalanan kakek selama masa perjuangan. Sepanjang malam radio itu akan terus didekap kakek sambil dielus hingga terkantuk-kantuk. Kakek dan jaket tuanya serta radio yang tak jelas lagi suaranya.

Pemandangan malam yang tak mungkin hilang terlindas waktu. Dan belum lagi setengah perjalanan acara siaran, Kakek selalu tertidur. Begitu pulas. Sementara radio tuanya masih saja mengumandangkan kemerasak siaran pedesaan RRI. Nafasnya naik turun. Pelan dan berat. Semakin lama semakin panjang. Nafas Kakek beradu dengan suara radio. Memecah sunyi membelah dingin. Membelah pekat malam.

mitha laksono

03 Januari 2009

Iya deh, Tia Emang Sayang Binatang

Edit Posted by with 1 comment
Kemana-mana, Tia tak pernah lupa bawa boneka kucing kesayangannya. Tapi sebentar, jangan bilang kalau itu boneka kucing. Dengan lantang ia akan bilang, "Ini Mio tahuuu... (semoga Yamaha baca ini dan mau ngasih hadiah sepeda motor Mio, kekeke...)".

Tia memang sayang binatang. Baik yang 'biasa', ini sebutan dia untuk binatang beneran, atau yang sekadar binatang mainan. Bayangkan, dialog seperti ini sering muncul tiap mau mandi.

"Nyut, udah sore. Ayo mandi," kata ibunya. Tia buru-buru ke tempat penyimpanan maianan. "Binatang-binatangku mana bu?"

Ibunya (yang punya blog ini), langsung menunjuk kotak plastik, "Tuh...". Mata Tia langsung berbinar. Copot baju, dan plung, masuk ke bak mandi pink kesayangannya. Bila dihitung, Tia butuh rata-rata 15 sampai 30 menit buat mandi. Tapi asal tahu saja, 90 persen waktu mandi, sesungguhnya lebih banyak habis buat bermain 'binatang-binatang'-nya.

Mandi kok gitu sih?
Biarin. Mbak Tia kan sayang binatang.

Tapi ini udah jam berapa? Kalau mandinya kelamaan bisa masuk angin tahuuuu...
Tapi kudanya masih pingin main sama Mbak Tia tauuuu....

Dasar. Di lain waktu, Tia pernah ngambek tidak mau sekolah. Ibunya, sekali lagi yang punya blog ini, sampai berang gara-gara Tia tidak mau sekolah. "Kebayang, kalau Tia gak sekolah aku pasti gak bisa baca Majalah Femina (semoga Femina juga baca blog ini, biar ibunya Tia bisa dapat jatah langganan gratis, kekekekeee...)," kata ibunya Tia. Egois banget ya? "Tapi ayah suka kan?" Hmmmm....

Tak mau kalah akal, jurus jitu mesti dikeluarkan : libatkan binatang!

Nyut, si Mio kenapa tuh?
Kenapa yah? Lapar ta?

Nggak, kayaknya dia pingin ikut kamu sekolah
Iya yah. Mioooo, tunggu ya. Kamu nanti tak ajak ke sekolahku, biar kenal sama bu guru.

Sim salabim. Mio masuk tas, dan Tia mau berangkat ke sekolah. Selesai? Ini karmanya. Suatu ketika, giliran saya yang males berangkat kerja. Maklum, beberapa boss di kantor lagi ngincer pingin ndepak saya. Hahahaaa...

Ayah gak kerja ta?
Kerja, tapi nanti.

Lhoo, kudaku pingin ikut ayah kerja.
Lho?

Sim salabim. Kuda mainan masuk kantong jaket. Dan saya mesti berangkat kerja sambil bawa kuda mainan dalam kantong. Tak hanya itu, kata Tia, kudanya tidak mau sendiri. Jadi hari itu, saya mesti ke kantor sambil bawa mainan kuda, kambing, badak, dan gajah dalam kantong jaket. Aduh, ampuuuunnn...