23 Mei 2009

Lukisan untuk Ayah

Edit Posted by with 2 comments
Pulang malam, dan istriku menyambut tergopoh. "Tadi ditunggu Tia. Sekarang dia sudah tidur. Ada yang mau dipamerin," katanya. Kami bergegas ke ruang tengah, dan berdiri di whiteboard. "Tuh," kata istriku.

Di whiteboard, ada coret-coret full page. Dan yeah, rasanya memang seperti saat menerima iklan display atau advertorial fullpage. Melihat lukisan, tepatnya coretan Tia, tentang gunung, rumah, kelinci, ikan, dan kami ; aku, istriku, adik (yang masih 4,5 bulan dalam kandungan) dan Uti (neneknya Tia).

Jangan buru-buru berpikir, saya sedang kena demam 'ayah yang bangga pada polah anak'. Nggak lah. Tia, anak semata wayang kami, memang terus mengundang decak kagum bagi kami. Namanya juga anak sendiri. Tapi hari itu, kata istri saya, dia ngebut membuat lukisan di whiteboard. Seharian! "Dan dia ngebut buat dipamerin ke ayah," kata ibunya Tia.

Sedih juga. Semalaman saya menikmati coretan Tia. Semalaman. (ayahe tia)











11 Februari 2009

Tia dan Sony Ericsson

Edit Posted by with No comments
Ini catatan cukup lama juga. Gara-gara pas transfer data dari ponsel ke laptop beberapa waktu lalu, ternyata nemu foto-foto ini. Beberapa foto, bener-bener bikin geli. Karena usut punya usut, ada beberapa hasil jepretan Tia di sana.

Ya, waktu itu, hape ibu dan ayah ditaruh meja. Keduanya merek Sony Ericsson (wahai Sony Ericsson, baca ini, dan berbagi hape-lah dengan kami...). Nah, si Tia yang sering di-foto, diam-dia menghapal cara memotret, termasuk memotret diri sendiri.

Hasilnya? "Tia udah bisa motlet looo..." katanya sambil pamer gambar wajahnya. Hmm, iya deh...***

Ya Jalan-jalan di Magetan lah!

Edit Posted by with 1 comment
Tahun baru lalu, Tia, Ibu, Uti, and Ikung ke Magetan. Liburan gitu loh... tapi tanpa ayah. Katanya, ayah lagi sibuuuuk! Cari proyek sana-sini. Maklum, udah gak dapet gaji tetep, gak kayak dulu. Hehehe...

Biar gitu, liburan kali ini tetep seru kok. Apalagi bisa ketemu dengan saudara-saudara dari Magetan dan Jakarta. Bisa lihat Telaga Sarangan, naik kuda, ma'em sate kelinci, dan masih banyak lagi [soal Telaga Sarangan, bisa lihat di sini deh].

Nah, dari Mas Bambang, kami dapat foto-foto di Magetan ini. Lain kali, ayah wajib ikut dong. Biar makin seru. Biar ibu gak cemberut melulu... [jadi malu..]***














03 Februari 2009

Kenapa Saya tak Suka Rokok

Edit Posted by with No comments
Saya kerap terganggu jika ada orang merokok di dekat saya. Suami saya seorang perokok. Untuk itu saya memilih jauh-jauh alias tak mau dekat-dekat dengannya, saat ia tengah menikmati sebatang rokok. Malah kalau suka usil, saya sembunyikan saja rokoknya atau tak jarang diam-diam saya kurangi jumlahnya. Tapi ternyata cara ini tak juga ampuh menghilangkan, minimal mengurangi kebiasaannya untuk menghisap tembakau batangan itu.

Bukannya sok bersih atau apa, tapi saya memang benar-benar tak suka asap rokok. Menurut saya, orang merokok berarti tidak mencintai diri sendiri, orang lain dan tidak mencintai bumi. Tuhan menciptakan bumi dengan udara bersih untuk kelangsungan hidup makhluk hidup. Namun manusia merusaknya dengan asap rokok.

Egoiskah? Sudah tentu jawabannya: iya. Belum lagi sebuah survey yang menyebutkan jika pertumbuhan terbesar tahun lalu pada pengguna rokok, ternyata anak-anak di bawah umur. Lengkap sudah alasan saya untuk semakin tidak menyukai rokok.

Rokok berarti membakar uang. Rokok berarti pencemaran udara. Rokok berarti tidak menghormati hak orang lain untuk memperoleh udara bersih. Belum lagi sederet akibat negatif yang ditimbulkan rokok bagi penggunanya, yang bisa kita baca di tiap pak kemasan rokok. Meski pada akhirnya himbauan itu samasekali tak berguna bagi yang terlanjur kecanduan nikotin rokok.

Sebenarnya kalau mau disadari, mulai berhenti merokok bisa berarti pula mulai bersikap adil pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Ketika setiap orang kian gencar melakukan gerakan hijau bumi, kenapa kita tidak turut ambil bagian dengan mengawali dari hal-hal kecil yang menyangkut diri sendiri. Mengurangi rokok misalnya.

Bayangkan jika satu orang saja berani mengambil keputusan untuk mengurangi jatah satu batang rokok per hari. Berapa besar uang yang bisa dihemat. Berapa besar suplai oksigen bersih yang bisa kita selamatkan. Dan mungkin akhirnya berapa besar jumlah kematian akibat rokok yang bisa kita cegah. Jadi, marilah berhenti merokok. Demi diri kita, orang-orang di sekitar kita dan demi bumi kita.

Pelangi di Atas Air

Edit Posted by with No comments
Beberapa hari yang lalu rumah kami disambangi banjir. Siang itu hujan turun tak henti. Air mulai meninggi. Ayah dan Ibu ketar-ketir. Air merambat masuk melewati pagar rumah. Bahkan beberapa rumah tetangga mulai kebanjiran. Komplek kami saat itu sudah tergenang lebih dari mata kaki.

Maklum hujan kali ini memang begitu deras dan kurun waktunya lumayan lama. Biasanya jika hujan turun, kami dan para tetangga santai saja. Karena komplek kami memang tak pernah kebanjiran. Namun sepertinya hari itu kami harus merasakan juga ‘nikmatnya’ kebanjiran. Terutama Tia.

Ketika semua mulai panik mencoba menyelamatkan barang-barang, Tia tetap saja asyik mengamati air yang terus naik. Ibu mulai curiga karena Tia mengamati air sambil tersenyum. Air terus merambat masuk dan memenuhi teras rumah. Semakin tinggi. Langsung saja Tia berlari ke arah Ibu dan Ayah sambil bertanya, “Mbak Tia boleh berenang ya......”.

Ayah dan Ibu tak sempat melarang. Tia langsung menceburkan diri dan asyik menikmati ‘kolam renangnya’. Tia begitu senang bermain air. Bahkan dia memboyong semua mainannya untuk diikutsertakan dalam kegiatan berenangnya. Mulai dari bola plastik kecil warna-warni hingga aneka satwa kesayangannya. Binatang-binatang kecil yang selalu dibawanya ketika mandi.

Tiba-tiba saja Tia tertegun. “Yah, kok airnya ada yang warna-warni?”, tanya Tia. Ayah menghampiri dan melihat genangan air di dekat kaki Tia. “Oh, itu tandanya airnya tercampur bensin. Kayak pelangi ya. Mau buat pelangi lagi?”, tanya Ayah. Dan tak berapa lama kemudian Ayah dan Tia asyik membuat pelangi dari tetesan bensin. Tia tertawa-tawa. “Pelangi kok di atas air ya, Yah”, Tia nyeletuk. Keduanya tak menghiraukan Ibu yang terus ngomel-ngomel kerepotan akibat banjir.