07 September 2008

A-at!!

Edit Posted by with 1 comment
Memasuki usianya yang ketiga, putri kecil kami semakin lucu saja tingkah lakunya. Mulai dari gaya bicaranya yang kadang membuat kami bingung (karena tidak mengerti apa yang dimaksud) maupun spontanitasnya mengucapkan kata-kata barunya yang tak terduga.

Misalnya saja ketika dia sedang marah. Pernah suatu kali si kecil marah kepada saya dan dengan mimik muka cemberut yang membuat saya semakin ingin tertawa, dia tiba-tiba saja berkata, “Huh, Ibu ini. Udah aku mau kerja aja”.

Begitu mendengar omongannya yang ketus itu, spontan saja saya yang awalnya sudah geli semakin ingin tertawa. Saya jadi teringat setiap kali saya marah pada si kecil, saya memang seringkali mengatakan padanya kalau saya akan kembali bekerja.

Tentu saja dengan harapan dia akan menghentikan kebandelannya. Dan jika sudah begitu biasanya dia pasti akan menurut dan menghentikan kenakalannya. Saya berpikir kalimat ini ampuh juga untuk menghalau sifat usilnya kalau sedang muncul.
Padahal kalau mau jujur sih, sekarang saya pasti lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan menemaninya bermain seharian, daripada harus berkutat dengan pekerjaan dan memendam rasa kangen atas kelucuannya.

Tak hanya saya dan suami, keluarga, kerabat jauh, teman-teman, maupun tetangga, seringkali gemas melihat tingkah lucu dan ‘aneh-aneh’ yang seringkali dilakukan si kecil.

Mereka seringkali menggoda dan memancing, untuk melakukan hal-hal lucu. Namun jika sudah keterlaluan mereka menggoda si kecil, maka ujung-ujungnya dia pasti akan marah dan mengeluarkan kata ajaibnya, yang kini tak hanya digunakan oleh si kecil jika dia sedang ngambek. Namun kami semua kerapkali juga ikut menggunakan kata itu, meski sekedar untuk mencairkan suasana. Apalagi jika diantara kami, orang-orang dewasa, terjadi’perang dingin’dan tak terselesaikan alias buntu tak ada jalan keluar. Kata yang satu ini pasti ampuh untuk meredakan kembali ketegangan diantara kami. A-at alias jahat.

Si kecil senang sekali mengucapkan kata a-at jika sedang marah, tentu saja sambil pasang muka cemberut. Kalau sudah keluar kata yang satu ini, kami pasti akan tertawa dan merasa sukses menggodanya. Keponakan, bude, kakek, nenek, dan para tetangga juga hafal dengan kata ini. Rupanya kebiasaan ini sudah jadi trade mark si kecil. Bahkan sebagian dari tetangga ada yang iseng memanggil si kecil dengan sebutan kata ini.

Ada pula yang guyon dengan maksud menggoda si kecil dengan menanyakan siapa orang paling a-at sekampung? Dengan keluguannya si kecil pasti langsung menjawab ‘adek’ tanpa merasa berdosa. Kadang ada rasa kesal juga pada para penggoda itu. Namun kalau dipikir-pikir, si kecil makin banyak teman dan terkenal di kompleks kami. Tentu saja populer dengan kata a-atnya.

Sindrom kata a-at tak hanya merebak di kalangan tetangga dan orang-orang terdekat. Namun penjual bakso dan gado-gado keliling langganan kami pun tak luput kena semprot si kecil. Alhasil mereka kini tak lagi asing dengan kata yang satu itu. Bahkan jika mau curang, kami bisa saja selalu mengambil keuntungan dari kesempatan ini. Mengingat kami cukup sering mendapatkan tambahan gratisan bakso atau gado-gado jika si abang penjual lagi baik hati.

Setelah mendapatkan umpatan a-at, biasanya mereka akan langsung berbaik hati dengan memberikan bonus kepada kami. Entah karena gemas atau takut si kecil akan menangis.

Pernah suatu kali saya benar-benar sedih ketika si kecil melontarkan kata a-at kepada saya. Dengan mimik muka hampir menangis, saya yang biasanya selalu tertawa tiap kali mendengar kata itu keluar, kali ini langsung iba pada si kecil. Bagaimana tidak, si kecil tak hanya menyebut saya a-at namun juga mengatakan jika saya tak lagi jadi temannya. Kontan saya memutar akal untuk kembali membuatnya senang.

Saya teringat jika dia suka sekali dengan ikan. Maka dengan sedikit bujuk rayu, saya menjanjikan padanya untuk membeli ikan kesukaannya. Dan tersenyumlah si kecil sambil berkata “Ibu baik deh”. Sejak saat itu saya berjanji dan berpikir bagaimana caranya agar si kecil tak lagi suka mengucapkan kata a-at. Saya sempat khawatir juga dengan perkembangan mentalnya jika dia terus-terusan mengucapkan kata itu.

Selalu menganggap semua orang jahat dan tidak menyayanginya. Namun pas lagi asyik-asyiknya memutar otak, tiba-tiba dari belakang muncullah keponakan saya. Dengan santainya dia melintas sambil iseng mencubit si kecil. Kontan saja darah saya rasanya langsung naik sampai ke ubun-ubun begitu mendengar si kecil menjerit sambil berteriak a-aaaaaaat.........

>> mitha laksono

1 komentar:

kinanthi sophia ambalika mengatakan...

wah makin centil tuh Tia mith :)

Kinan kayaknya omongnya dulu daripada jalannya. Aku rilex saja karena perkembangan anak laen2. aku dah bayangin gimana nanti saat 2-3 tahun dan kicauannya dah mulai banyak.. pasti pusyiingggg.

wah gak nyangka kamu bisa juga bertutur dengan faseh. napa gak dari dulu.

www.be-samyono.com

oh ya internet murah pake speedy aja. aku pake fasilitas pelajar hahaha jadi murah meriah